Melatih Kecerdasan Emosi Anak

Ingin buah hati memiliki kecerdasan emosi yang maksimal? Saatnya ubah pola asuh Anda yang mungkin dijalani kini kurang tepat. Jadilah sarana katarsis yang nyaman bagi anak untuk mengoptimalkan kecerdasan emosinya.

Kalangan muda cenderung memiliki sifat ekspresif, oleh karenanya anak-anak muda yang dikategorikan usia 12-21 tahun memerlukan media untuk menyalurkan emosi atau sarana katarsis.

Sampai sejauh ini belum ada literatur yang secara spesifik yang membicarakan tentang bagaimana cara guru melatih kecerdasan emosi anak didiknya. Kebanyakan litelatur yang beredar lebih menyoroti tentang bagaimana cara orang tua membina EQ anak-anaknya. Seperti bukunya Maurice J. Elias dkk. dengan bukunya “Cara efektif Mengasuh Anak dengan EQ” dan bukunya Joan Gottman dan Jean De Claire dalam bukunya “Kiat-Kiat Membesarkan Anak yang Memiliki EQ” (1992).

Joan Gottman dan Jean De Claire mengidentifikasikan empat tipologi orang tua dalam menyikapi ungkapan emosi-emosi anak mereka beserta dampaknya yaitu:

  1. Orang tua yang mengabaikan
    Mereka tidak menghiraukan dan menganggap sepi atau meremehkan emosi-emosi negatif anak. Akibatnya anak menganggap bahwa perasaan-perasaan itu keliru, tidak tepat atau tidak sah. Mereka mungkin merasakan ada yang salah dari perasaannya dan mungkin juga menghadapi kesulitan untuk mengatur emosi mereka sendiri

  2. Orang tua yang tidak menyetujui
    Mereka bersikap kritis terhadap ungkapan perasaan-perasaan negatif anak mereka. Akibatnya bagi anak adalah sama denga tipologi pertama.

  3. Orang tua yang Laizees
    Mereka menerima emosi anak-anak mereka dan berempati tetapi tidak memberikan bimbingan atau menentukan batas-batas tingkah laku anak mereka. Akibatnya, anak tidak belajar mengatur emosi mereka, menghadapi kesulitan untuk berkonsentrasi, dan sulit menjalin persahabatan atau bergaul dengan orang lain.

  4. Orang tua yang berperan sebagai pelatih emosi
    Mereka menghargai emosi-emsi negatif anak sebagai sebuah kesempatan untuk semakin akrab, berempati dengan emosi yang dialami anak, namun mereka membimbing dan menentukan batas-batas tingkah laku anak-anak mereka. Akibatnya, anak belajar mempercayai perasaan perasaanya, mengatur emosi mereka sendiri, dan menyelesaikan masalahnya. Mereka juga mempunyai harga diri yang tinggi dan bergaul dengan orang lain secara baik

Di bagian lain, pada buku yang sama Gottman dan De Claire juga menjelaskan lima prinsip dasar bagi orang tua dalam melatih kecerdasan emosional anak, yaitu:

  1. Menyadari emosi anak
    Langkah pertama melatih anak merasakan emosi yang ada dalam diri orang tua itu sendiri ketika anak mengalami masalah emosional. Menyadari emosi diri sendiri sebelum merasakan emosi anak bukan berarti merubah secara frontal karakter pribadi orang tua atau mengungkapkan secara membabi buta apa yang mereka rasakan kepada anak, melainkan mengenali kapan orang tua merasakan suatu emosi, mengidentifikasikan perasaan-perasaannya, dan peka terhadap hadirnya emosi pada orang lain.

  2. Mengakui emosi anak
    Mengakui emosi anak dan memanfaatkannya sebagai peluang untuk membangun kedekatan dan mengajar kecerdasan emosional pada anak

  3. Mendengarkan dan empati dan meneguhkan perasaan anak
    Langkah ketiga ini merupakan langkah terpenting dalam melatih kecerdasan emosi anak. Mendengarkan dengan emosi berbeda dengan sekedar mengumpulkan data-data lewat telinga. Mendengarkan dengan empati berarti mengunakan mata untuk mengamati petunjuk fisik anak, menggunakan imajinasi untuk melihat situasi dari titik pandang anak, menggunakan kata-kata untuk merumuskan kembali, menenangkan dan tidak mengancam, memberi pertolongan kepada anak untuk menamai (naming or labiling), dan akhirnya menggunakan hati untuk merasakan apa yang dirasakan anak.

  4. Menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata
    Langkah ini mudah dan sekaligus sangat penting. Dalam melatihemosi anak, orang tua perlu menolong anak memberi nama emosi-emosi mereka sewaktu emosi-emosi tersebut timbul, misalnya; tegang, cemas, sakit hati, marah dan sebagainya. Dengan cara ini pula, anak-anak ditolong untuk mengubah suatu perasaan yang tidak jelas, menakutkan dan tidak nyaman menjadi sesuatu yang dapat dirumuskan, mempunyai batas-batas, serta merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalahnya
    Dari sini dapat disimpulkan bahwa guru tidak mungkin menyediakan waktu khusus untuk melatih EQ murid-muridnya. Mereka dapat mengembangkan EQ murid-muridnya dalam aktivitas pembelajaran sehari-hari. Walaupun begitu tidak dapat dipungkiri bahwa emosi adalah faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar siswa.
Peran orangtua dalam upaya membentuk dan menjaga kecerdasan emosi pada anak sangat diperlukan. Jadi, orangtua harus bisa menjadi sarana katarsis (sarana penyaluran emosi) bagi anaknya. (AY)

Dari berbagai sumber
MORE ARTICLES
Si Kecil Pemalu
Jika si Kecil Ngemil
Mengatasi Kecemasan Si Kecil
Jalan-Jalan : Museum Tekstil
Dibutuhkan Ahli Matematika 10 Tahun ke Depan

0 Comments

Leave your comments by :

Sign up for daily tips and ideas that will enrich your child's education.


JOBS TODAY

Teacher, Assistant Teacher & Mandarin Teacher

Blossoms A Montessori Creative Kindergarten

Preschool Teacher & Assistant Teacher

Discovery Zone Preschool - Muara Karang

Preschool teacher

Play Dough Preschool

Math Teacher, Homeroom Teacher, Assistant Teacher

Harvest Christian School

Receptionist & Administration Staff

Kids World Educational Centre

TESTIMONIALS

Ilham Ramanda

"Personaly i know this person who develop sekolah123.com. he is hard worker and the one who you can trust to."

Atik Nur Hasanah Rahmawati

"Congratulation for creating this wonderful website,, I am sure that it will be very useful for us in teaching and learning field,,, Good wishes for the next development ,,May God bless us,,,"