Plus Minus Sekolah Nasional Plus

Dra. Evita Adnan M.Psi, pakar pendidikan dari Asosiasi Psikologi Pendidikan mengatakan, ”Kalau kita bicara sekolah nasional, kita bicara mengenai sekolah umum, yang memakai kurikulum standar nasional. Kalau kita bicara nasional plus, tentunya harus ada kriteria yang lebih dari sekolah nasional.” Dengan kondisi tersebut, pengajar Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Jakarta ini menambahkan, mestinya kualitas sekolah nasional plus lebih baik.

Hal-hal yang sangat khas intelektual menurut Evita, biasanya dikembangkan di sekolah-sekolah nasional plus. ”Ada desain instruksional yang betul-betul dipersiapkan,” ujarnya. Pada sebuah sekolah nasional plus yang diamatinya, Evita juga melihat bagaimana murid-muridnya benar-benar menikmati belajar. ”Jumlah muridnya tidak banyak, hubungan inter individual lebih tinggi, karena jumlah murid yang lebih sedikit,” katanya. Manajemen kelasnya juga mungkin berbeda dengan yang standar, tetapi diatur sedemikian rupa oleh gurunya. ”Tentu gurunya pun sudah dipersiapkan yang dapat memberikan pembelajaran yang berbeda, menggunakan pendekatan-pendekatan yang memahami perkembangan anak,” urai Evita.

Sependapat dengan Evita, Lody Paat, Koordinator Koalisi Pendidikan juga melihat komposisi guru dan murid yang proporsional di nasional plus sebagai suatu hal yang positif. Lody juga mengakui bahwa sekolah-sekolah nasional plus memang unggul dalam hal fasilitas. Mulai dari ruang kelas yang memadai, komputer, laboratorium, ruang musik, sarana olahraga yang lengkap dari kolam renang, fasilitas berkuda, tennis dan lain sebagainya, perpustakaan dengan koleksi beragam, ekstra kurikuler yang variatif, sampai ke kantin dan WC yang bersih. Gurunya pun bisa berbahasa Inggris. ”Tapi itu bukan segalanya,” ujar Lody.

Menurut Lody, yang juga staf pengajar Universitas Negeri Jakarta, berbagai fasilitas itu wajar karena orangtua murid pun harus membayar mahal untuk menyekolahkan anaknya di situ. Dengan segala ke-plus-an itu, maka citra dari sekolah nasional plus ini menurut Lody adalah, ”Sekolah anak-anak orang yang punya uang saja. Sekolah plus, hanya untuk orang kaya,” katanya. Dengan kondisi seperti itu, Lody meragukan kepekaan sosial anak-anak yang bersekolah di sekolah nasional plus.

Menurut Evita, murid yang terlalu homogen – setidaknya berdasarkan kemampuan ekonominya – membuat anak tidak bisa melihat bahwa dalam beberapa hal dia berbeda dengan kelompok lain di luar sekolah dan tempat tinggalnya. Lain halnya dengan sekolah nasional yang muridnya lebih heterogen. Dengan keberagaman latar belakang sosial , kepekaan dan pemahaman akan keberbedaan anak pun akan lebih terasah. ”Sekolah nasional plus yang menyadari hal ini, akan menyelipkan beberapa anak yang kurang mampu. Jadi orientasinya bukan melulu komersial, ” katanya. Dengan demikian, menurut Evita, sekolah tersebut akan dapat menumbuhkankembangkan anak manusia secara natural, dan tidak secara eksklusi.

Apakah berbagai nilai plus itu akan bernilai negatif atau positif, sangat tergantung pada sekolah, guru atau orangtua memaknainya. ”Tetapi kalau visi sekolah nadanya sudah over estimate, misalnya ”sekolah terbaik untuk murid terbaik”, mungkin akan mengarah pada hal negatif. Misalnya eksklusifitas,” kata Evita lagi. Pada sekolah-sekolah seperti itu, Evita kerap melihat keinginan orang-orang dewasa (orangtua dan pihak sekolah) yang sering tidak terkontrol. ”Ada tuntutan-tuntutan yang tidak pada tempatnya, yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak,” tambahnya. Menurutnya, sekolah dan orangtua perlu memikirkan batas-batas kemampuan anak untuk menyerap pelajaran. Faktor kelelahan juga perlu dipertimbangkan. ”Saya khawatir, saking plus-plusnya anak tidak sempat mengendapkan dan menerapkan itu dalam kesehariannya,” ungkapnya.

Sebaliknya, bila guru-gurunya cukup kreatif, memberi kesempatan, dan mengakomodir kebutuhan muridnya, Evita meyakini murid-murid sekolah nasional pun bisa berkembang baik dan menghasilkan lulusan yang baik pula. Baik Evita maupun Lody yakin, ada guru dari sekolah nasional yang bagus, kreatif, inovatif dan memberi kesempatan pada murid-muridnya berkembang dengan baik. Selain itu, banyak juga juara-juara sains nasional dan internasional yang dihasilkan dari sekolah-sekolah nasional. “Dengan adanya standarisasi pendidikan nasional, diharapkan siswa tak hanya dapat bersaing secara nasional tetapi juga dengan dunia,” ujar Evita. (SM)

Sumber : www.cybermed.cbn.net.id
MORE ARTICLES
Si Kecil Pemalu
Jika si Kecil Ngemil
Mengatasi Kecemasan Si Kecil
Jalan-Jalan : Museum Tekstil
Dibutuhkan Ahli Matematika 10 Tahun ke Depan

0 Comments

Leave your comments by :

Sign up for daily tips and ideas that will enrich your child's education.


JOBS TODAY

Teacher, Assistant Teacher & Mandarin Teacher

Blossoms A Montessori Creative Kindergarten

Preschool Teacher & Assistant Teacher

Discovery Zone Preschool - Muara Karang

Preschool teacher

Play Dough Preschool

Math Teacher, Homeroom Teacher, Assistant Teacher

Harvest Christian School

Receptionist & Administration Staff

Kids World Educational Centre

TESTIMONIALS

Ilham Ramanda

"Personaly i know this person who develop sekolah123.com. he is hard worker and the one who you can trust to."

Atik Nur Hasanah Rahmawati

"Congratulation for creating this wonderful website,, I am sure that it will be very useful for us in teaching and learning field,,, Good wishes for the next development ,,May God bless us,,,"