Les Bagi Prasekolah

Fenomena yang terjadi di dunia pendidikan sekarang ini adalah banyaknya Parents yang memasukkan si Kecil yang masih berumur 3-4 tahun mengikuti bermacam-macam les. Apalagi belakangan ini banyak sekali tersedia tempat kursus yang beraneka ragam. Tetapi apakah perlu untuk si Kecil yang masih balita ini?


Menjamurnya tempat kursus membuat Parents memiliki banyak pilihan dan makin lama makin menjangkau bagi anak-anak yang usianya makin muda. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga di Amerika. Contohnya, dulu tempat kursus hanya fokus untuk membantu anak-anak SD mengikuti tugas sekolah dan membantu pelajaran yang tertinggal. Tetapi sekarang ini banyak program-program yang diluncurkan untuk anak-anak pra-TK dimana tujuannya untuk menyiapkan anak-anak ini menghadapi kerasnya dunia TK.


Mengapa Parents begitu antusias dengan kesiapan anak usia batita dalam menghadapi masa sekolah?

Kurikulum yang ada sekarang ini sudah memberatkan anak-anak prasekolah. Ekspektasi yang makin tinggi dimana sekarang ini TK menyerupai kelas 1 SD, anak sudah diharuskan memiliki ketrampilan dasar membaca. Padahal jauh sebelumnya kurikulum TK hanya mengenalkan huruf, menulis nama sendiri, menghitung sampai 20 saja dan hal ini sudah diajarkan ke level prasekolah. Aktivitas yang terjadi di prasekolah semakin sedikit melibatkan permainan lilin dan balok-balok dan lebih terfokus belajar abjad dan angka.


Hal lain adalah kekhawatiran dari Parents akan kesiapan anaknya menghadapi tuntutan di masa depan dalam bidang teknologi. Parents merasa memiliki tanggung jawab lebih untuk mendorong kecerdasan mereka. Caranya pun mulai dari permainan edukatif, CD ataupun video yang laris manis diborong untuk dipasang di kamar ataupun ruang bermain hingga memasukkan si Kecil ke tempat kursus. Tanpa disadari, si Kecil sudah diorientasi oleh Parents ke dalam bidang pendidikan bahkan sebelum si Kecil memasuki umur 4 tahun. Tekanan-tekanan yang makin besar inilah yang memaksa Parents mau tak mau terbawa arus. Begitulah nyatanya meskipun tak selalu terbukti.


Para Ahli Berkata

Beberapa psikolog dan pendidik berpendapat program yang ditawarkan pada anak di prasekolah mengabaikan beberapa hal vital dan mungkin saja bisa muncul dampak karena terlalu dini memaksa anak. Misalnya saja dalam hal membaca, membuat anak mengingat aturan-aturan fonetik dan mengenali kata adalah cara yang buruk karena tidak melatih anak-anak untuk menggunakan kata dengan cara yang benar. Inilah yang seringkali dilakukan oleh Parents ketika membelikan buku, mendaftarkan untuk ikut les atau menyekolahkan si Kecil ke program prasekolah yang sangat akademis.


Michael Thompsin, Ph.D, salah satu pengarang Raising Cain and The Pressured Child mengatakan ia belum melihat adanya bukti mengajarkan membaca dan matematika pada balita yang masih belia bisa menimbulkan perbedaan jangka panjang dalam karir akademik mereka. Belum tentu anak yang sudah bisa membaca di TK bisa menjadi pembaca yang lebih baik di masa yang datang nanti.


Perlukah?

Tanpa disadari Parents, tekanan antar sesama teman yang ikut berakademis terlihat dimana-mana. Apakah si Kecil cukup menikmati masa kanak-kanaknya? Apakah kepintaran berhitung benar-benar lebih berarti daripada bermain masak-masakan dan balok-balokan? Apa dengan memasukkan si Kecil berakademis adalah cara terbaik untuk menerapkan dan mendorong minat belajarnya? Tidak semua Parents punya jawaban yang sama terhadap pertanyaan tersebut.


Tentu Parents tidak bisa hanya memikirikan kebahagian langsung anak-anak, tetapi juga harus menyeimbangkan tujuan dan keinginan bersaing dengan pertimbangkan apa yang terbaik bagi si Kecil jauh sampai ke masa depannya. Mungkin untuk beberapa anak, program akademik sederhana sebelum mereka mulai sekolah dapat memacu kebutuhannya dan memberikan pembelajaran terstuktur yang disukainya. Tetapi bagi anak lain itu merupakan solusi dari masalah yang sebenarnya tidak dimiliki mereka.


Pada kenyataannya, anak usia balita tumbuh dengan menikmati dunia di sekitarnya. Permainan-permainan sederhana pun diyakini dapat dan mampu membentuk pondasi pemahaman bahasa yang efektif dan pemahaman matematika melalui kehidupan sehari-sehari. Tetapi jika si Kecil duduk dan mempelajari konsep akademik, ia tidak belajar melalui beraktivitas dan bermain. Kegembiraan anak menikmati masa pertumbuhannya lebih penting daripada keberhasilan akademis semata. Semuanya berbalik ke Parents dan si Kecil, apakah perlu memberikan ia les atau kursus hanya demi untuk kepintaran akademisnya? Semoga bermanfaat, Parents. (SM)

MORE ARTICLES
Si Kecil Pemalu
Jika si Kecil Ngemil
Mengatasi Kecemasan Si Kecil
Jalan-Jalan : Museum Tekstil
Dibutuhkan Ahli Matematika 10 Tahun ke Depan

0 Comments

Leave your comments by :

Sign up for daily tips and ideas that will enrich your child's education.


JOBS TODAY

Teacher, Assistant Teacher & Mandarin Teacher

Blossoms A Montessori Creative Kindergarten

Preschool Teacher & Assistant Teacher

Discovery Zone Preschool - Muara Karang

Preschool teacher

Play Dough Preschool

Math Teacher, Homeroom Teacher, Assistant Teacher

Harvest Christian School

Receptionist & Administration Staff

Kids World Educational Centre

TESTIMONIALS

Ilham Ramanda

"Personaly i know this person who develop sekolah123.com. he is hard worker and the one who you can trust to."

Atik Nur Hasanah Rahmawati

"Congratulation for creating this wonderful website,, I am sure that it will be very useful for us in teaching and learning field,,, Good wishes for the next development ,,May God bless us,,,"